Inovasi AR Fasilkom UNEJ untuk ABK
23 November 2025
KBRN,Jember: Di sebuah ruang kelas di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Jember, beberapa anak tampak bergerak mengikuti instruksi sederhana dari sebuah layar. Mereka mengangkat tangan, melompat kecil, atau menggerakkan tubuh sesuai animasi yang muncul.
Yang tampak seperti permainan itu sejatinya adalah bagian dari proses terapi dan pembelajaran, dikemas melalui teknologi Augmented Reality (AR) yang dirancang khusus untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Inovasi inilah yang mengantarkan Tim BTC Pecah Telur dari Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Jember meraih Medali Perak Divisi UX Design pada ajang nasional GEMASTIK XVIII 2025. Kemenangan ini menjadi sejarah bagi Universitas Jember“memecah telur” untuk pertama kalinya selama 18 tahun penyelenggaraan kompetisi tersebut.
Rizki Dwi Putra, mahasiswa Informatika 2021 yang menjadi ketua tim, mengisahkan Jumat (21/11/2025) bahwa ide ini berangkat dari persoalan yang sering ditemui guru-guru pendidikan khusus bagaimana membuat Program Pembelajaran Individual (PPI) berjalan efektif tanpa membebani anak.
“Kami ingin pembelajaran bagi siswa ABK, khususnya dengan kondisi ADHD, ASD, Down Syndrome, dan Cerebral Palsy, bisa lebih maksimal dan optimal,” tutur Rizki.
Bersama dua rekannya Irfan Muhammad Zein (Teknologi Informasi 2022) dan Neifa Ulil Layli (Sistem Informasi 2022) mereka merancang platform game edukasi yang menggabungkan gesture detection, movement-based learning, dan teknologi AR–Computer Vision.
Platform ini menyajikan pembelajaran interaktif yang menargetkan empat aspek keterampilan penting: kognitif, motorik, akademik, dan sosial-emosional. Anak cukup mengikuti gerakan yang terdeteksi kamera, sementara sistem memberikan umpan balik secara real-time.
Tak hanya itu, tenaga pendidik juga mendapatkan dashboard untuk memantau perkembangan tiap siswa. Fitur ini sudah diimplementasikan melalui kolaborasi uji coba dengan SLBN Jember.
Di tengah persaingan ketat 433 tim mendaftar di Divisi UX Design, dan hanya 20 yang melaju ke final Tim BTC Pecah Telur unggul karena membawa prototipe yang benar-benar berfungsi.
“Keunggulan utama kami adalah prototipe yang sudah sesuai kebutuhan. Teknologi AR dan Computer Vision yang kami terapkan sudah bisa langsung dimainkan oleh Anak Berkebutuhan Khusus,” kata Rizki.
Inilah yang membedakan mereka dari banyak kompetitor lain yang berhenti pada level konsep. Produk mereka sudah teruji di lapangan, sehingga nilai kebermanfaatannya tampak nyata.
Inovasi ini bukan tercipta dalam semalam. Sejak Mei hingga Oktober 2025, mereka menjalani proses panjang mulai penggalian masalah, riset kebutuhan, hingga pengujian. Tantangan terbesar justru datang dari dalam tim.
“Kami harus menyamakan persepsi dan sudut pandang. Brainstorming tanpa henti jadi kunci agar bisa terus maju,” ujar Rizki.
Dengan bimbingan dosen pembina Fahrobby Adnan, S.Kom., M.MSI., mereka berupaya mempertahankan ritme kerja yang konsisten dan menjaga semangat meski dikejar deadline kompetisi
Nama tim “BTC Pecah Telur” bukan tanpa alasan. Selama 18 tahun gelaran GEMASTIK, Universitas Jember belum pernah membawa pulang medali. Prestasi tertinggi selama ini hanyalah menjadi finalis.
Karena itu, raihan Medali Perak ini memiliki arti tersendiri sebuah awal baru. Momentum penting bagi Universitas Jember dalam dunia kompetisi teknologi informasi nasional.
Lebih dari sekadar kompetisi, Rizki menegaskan bahwa tujuan utama inovasi ini adalah dampak sosial. Ia berharap platform ini dapat menjadi solusi nyata untuk pemerataan pendidikan khusus di Indonesia.
“Persistence adalah kuncinya,” pesan Rizki kepada mahasiswa lain. “Temukan passion, ikut lomba untuk mengasah kemampuan, dan selalu adaptif dengan teknologi terbaru.”
Karya ini diharapkan tak hanya berhenti di GEMASTIK, tetapi berkembang menjadi alat bantu pendidikan yang dapat diadopsi di berbagai sekolah luar biasa di seluruh Indonesia.
Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, inovasi seperti ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan yang memperkuat inklusivitas. Dan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, jembatan itu mungkin saja berbentuk permainan interaktif yang membantu mereka belajar sambil tersenyum.
Baca juga
Manfaat Terapi Sensori Integrasi pada Anak Autisme dan ADHD
Dukung Tumbuh Kembang Anak, ULD Lakondik Gandeng RS H.A Zaky Djunaid Buka Akses Terapi Wicara
Ini Cara Atasi Masalah Sensori Integrasi pada Anak Gangguan Pendengaran




