www.myfurniture8.com-alat terapi |Soft Play

Login
Information
News
5 Desember 2017
Pemkot Bagikan 51 Alat Bantu Disabilitas
Pemkot Solo detail

1 Desember 2017
Muniyati dan Anak-Anak Autis yang Cakap Menenun Songket
Anak Autis yang Cakap Menenun Songket detail

13 November 2017
Jaga Kandungan, Cegah Down Syndrome
Down Syndrome detail

18 Oktober 2017
Pantau Tumbuh Kembang Anak Lewat KIA
Pantau Tumbuh Kembang Anak Lewat KIA detail

» index berita

Ruang Ramah dan Aman Anak Semakin Sempit


29 September 2017

BANDUNG, (PR).- Kekerasan terhadap anak cenderung meningkat sejak 2012. Hal ini merupakan indikasi ruang ramah dan aman bagi anak-anak semakin sempit.

Hal tersebut diutarakan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan.

Dia menuturkan, salah satu yang menjadi keprihatinan pemerintah adalah maraknya kasus kekerasan dan perdagangan manusia/trafficking terhadap perempuan dan anak. 

"Itulah kenapa P2TP2A tidak pernah bosan untuk melakukan upaya preventif contohnya dengan hal seperti ini diseminasi informasi Kampanye Anti Kekerasan. Sebagai tindak lanjut dari pencanangan Jabar Tolak Kekerasan oleh Bapak Gubernur tahun lalu, kita ingin mengaktifkan seluruh intitusi  di Jabar termasuk institusi pendidikan," ujarnya dalam Kampanye Anti Kekerasan bertema 'Disabilitas Bebas Kekerasan' di Hotel Park Prime Bandung, Kamis, 28 September 2017.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh 200 peserta meliputi Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Orang Tua Korban. 

Netty menjelaskan, jumlah anak di Indonesia adalah sepertiga penduduk Indonesia atau sekitar 85 juta anak. Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan ssbanyak 9,9 juta anak Indonesia adalah anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam kategori penyandang disabilitas. 

Kekerasan anak difabel

Kini, dia mengatakan, anak-anak yang seharusnya terlindungi dari tindak kekerasan justru masih saja menjadi korban. Anak difabel pun sering kali menjadi korban yang tidak terungkap.

Berdasarkan data dari Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) dari tahun 2013 ke 2014 mencatat 72 korban tindak kekerasan pada anak dan perempuan difabel. Itu artinya semakin bertambah 15 orang atau sekitar 60%.

Dari sisi angka, kekerasan terhadap perempuan dan anak difabel bisa dikatakan lebih sedikit dibandingkan dengan angka kekerasan yang menimpa perempuan dan anak nondifabel. Namun, bukan berarti kekerasan terhadap kaum difabel ini tidak lebih penting untuk didahulukan penanganannya.

Netty menyebutkan, berapapun angka yang tercatat kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tetaplah sebuah kekerasan yang melanggar hak asasi manusia. Sehingga perlu ditangani dengan serius, mengingat dampaknya yang besar. 

Peran guru SLB

Netty menambahkan, guru SLB menjadi salah satu pilihan untuk diberikan informasi tentang kekerasan. Karena tingkat kesulitan memberikan informasi seputar kekerasan pada anak berkebutuhan khusus dan stigma masyarakat yang sering kali memberi label kurang pantas tentang keberadaan anak-anak disabilitas. 

"Saya melihat bahwa setiap orang punya tanggung jawab yang sama besarnya untuk melakukan pencegahan kekerasan terutama para guru SLB. Yang dimana anak-anak berkebutuhan khusus ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup besar untuk menjelaskan seperti apa bentuk kekerasan, pelecehan dan bagaimana cara menghindarinya. Hal tersebut tentu membutuhkan kerja hati, kerja ikhlas dari para guru SLB  untuk bisa mencegah kejahatan dan kekerasan yang menimpa anak-anak istimewa baik di lingkungan sekolah maupun dilingkungan sekitar masyarakatnya," tutur Netty.

"Saya ingin menggarisbawahi bahwa kekerasan terjadi hukan karena semakin sedikitnya orang baik, tapi begitu banyak orang baik yang berdiam diri (saat melihat/menerima kejahatan)," ujarnya.

Sebagai upaya merespon aduan masyarakat terkait Perempuan dan Anak, saat ini P2TP2A Provinsi Jawa Barat menyediakan fasilitas hotline melalui nomor 0800 1000 400. Dengan adanya hotline ini diharapkan bisa membantu dan ikut turun tangan dalam setiap indikasi kasus kekerasan di Jawa Barat.



Baca juga
  » 5 Desember 2017
Pemkot Bagikan 51 Alat Bantu Disabilitas
Pemkot Solo

  » 1 Desember 2017
Muniyati dan Anak-Anak Autis yang Cakap Menenun Songket
Anak Autis yang Cakap Menenun Songket

  » 13 November 2017
Jaga Kandungan, Cegah Down Syndrome
Down Syndrome

  » 18 Oktober 2017
Pantau Tumbuh Kembang Anak Lewat KIA
Pantau Tumbuh Kembang Anak Lewat KIA

  » 2 September 2017
Sering Tantrum, Putra Anji Jalani Terapi Sensori Integrasi
Terapi Sensori Integrasi