www.myfurniture8.com-alat terapi |Soft Play

Login
Information
News
5 Desember 2017
Pemkot Bagikan 51 Alat Bantu Disabilitas
Pemkot Solo detail

1 Desember 2017
Muniyati dan Anak-Anak Autis yang Cakap Menenun Songket
Anak Autis yang Cakap Menenun Songket detail

13 November 2017
Jaga Kandungan, Cegah Down Syndrome
Down Syndrome detail

18 Oktober 2017
Pantau Tumbuh Kembang Anak Lewat KIA
Pantau Tumbuh Kembang Anak Lewat KIA detail

» index berita

Kanti Setyo Wilujeng, Kegembiraan Mendampingi Anak Autis


2 September 2017

Saat ini anak-anak autis di Indonesia masih banyak yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari masyarakat. Masyarakat masih menganggap anak autis tidak patut diperhatikan seperti halnya manusia  normal. Namun, tidak demikian bagi seorang Kanti Setyo Wilujeng. Justru dengan bergumul bersama mereka, ia dapat mempelajari kebesaran Allah SWT.

Sejak masih duduk di bangku kuliah semester tiga, Muslimah muda ini sudah mempunyai kedekatan dengan anak-anak autis di Lampung. Pada 2011, ia ikut bergabung dengan Yayasan Cinta Harapan Indonesia Autisme Center (YCHI-AC). YCHI merupakan yayasan yang memberikan layanan terapi gratis bagi anak autisme dan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang kurang mampu.

"Di sana saya benar-benar belajar tentang kebesaran Allah lewat keistimewaan anak-anak tersebut," kata wanita berjilbab ini kepada Republika, Senin (8/2)

Awalnya, Kanti hanya mencoba-coba mengikuti kakak tingkatnya di Universitas Lampung (Unila) yang kebetulan lebih dulu bergabung dengan yayasan tersebut. Tapi, dari hal itulah akhirnya ia menemukan jati dirinya. "Berkumpul setiap hari bersama mereka mengingatkan saya untuk selalu bersyukur," ujarnya.

Di YCHI-AC Cabang Lampung, Kanti sempat menjabat sebagai kepala cabang. Saat itu, hampir setiap hari Kanti bersama teman-temannya melaksanakan terapi. "Di klinik YCHI Lampung ada 15 anak yang menjadi siswa terapi, tapi saat ini anak-anak sudah diterapirumahkan. Klinik YCHI Lampung sedang ditutup sementara karena keterbatasan pendanaan," katanya menjelaskan.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, pada akhir 2015 kemarin Kanti berpindah ke Tangerang Selatan untuk mengikuti suaminya. Namun, Kanti tetap melanjutkan perjuangannya sebagai terapis di YCHI-AC pusat  yang juga berlokasi di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Saat ini, kata dia, ada 11 anak yang diterapi di YCHI-AC pusat tersebut.

"Saya masih baru pindah ke YCHI pusat. Saya ditugaskan sebagai terapis profit. Jadi, YCHI pusat membuka layanan terapi berbayar yang tujuannya untuk menyubsidi silang yang nonprofit," katanya menjelaskan.

Selama lima tahun berkumpul dengan anak autis, Kanti tentu mendapatkan banyak kesan. Sehingga, perasaannya pun menjadi campur aduk. Keprihatinannya yang mendalam terhadap anak autis, selalu membuat Kanti bahagia dalam menjalani hidupnya. Ia menyebut, kesulitan saat memberikan terapi pasti ada, tapi Kanti menganggap itu semua sebagai pembelajaran. Sesulit apa pun, kata dia, insya Allah akan dilaluinya dengan sukacita. 

"Jadi, kalau ditanya sulitnya apa, saya suka bingung. Soalnya senang banget waktu terapi sama mereka," katanya mengucapkan.

Kanti mengatakan, secara umum anak autis merupakan anak yang mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan sulit merasakan emosi. Tapi di balik kekurangan tersebut, kata dia, anak  autis sebenarnya diberikan kemampuan yang luar biasa apabila mendapatkan penanganan yang tepat.

Menurutnya, walaupun saat ini memang banyak lembaga yang menyediakan layanan terapi bagi anak autis dan anak berkebutuhan khusus (ABK), tapi mereka pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara, kata dia, tidak semua anak autis berasal dari keluarga mampu.

Kanti melanjutkan, hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak bukan hanya milik anak-anak yang hidup serba berkecukupan. Semua anak, kata dia, apa pun latar belakang ekonomi keluarganya dan bagaimanapun kondisi fisik dan mentalnya, juga berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Melihat kondisi tersebut, ia selalu berharap agar anak-anak tersebut bisa mendapatkan yang terbaik. Sehingga, mereka mampu menjadi manusia yang mandiri. Karena itu, di yayasan tersebut tugas Kanti bukan hanya memberikan terapi gratis bagi ABK dhuafa, melainkan juga mampu membangun kepedulian dan pemahaman masyarakat tentang anak autis.

Menurutnya, saat ini keadaan anak-anak autis masih sangat membutuhkan perhatian, terutama anak yang berasal dari kalangan dhuafa. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat dengan mudah menyediakan akses pendidikan kepada anak-anak autis dan ABK tersebut. Tidak hanya itu, pemerintah juga harus turut memberikan pemahaman tentang anak autis dan ABK lainnya kepada para pelayan publik. Dengan harapan, pelayan publik tersebut dapat memberikan pelayanan yang tepat.

Selain aktif di yayasan tersebut, saat ini Kanti juga masih aktif di Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin). Sama halnya seperti kepada anak-anak autis, awalnya Kanti hanya mencoba-coba mengikuti temannya yang lebih dulu menjadi relawan juru bahasa isyarat (JBI) di Solo, Jawa Tengah. Kemudian, saat bertemu dengan tunarungu di Bandar Lampung, Kanti merasa memiliki keluarga baru. Saat berkumpul bersama mereka pun, Kanti seperti merasa candu.

Saat di Gerkatin Lampung, Kanti sudah sering menjadi juru bahasa isyarat di berbagai acara. Salah satunya, pada tahun kemarin ia berkesempatan untuk menjadi JBI pada debat kandidat calon wali kota dan wakil wali kota Bandar Lampung serta JBI dalam debat kandidat calon bupati dan wakil bupati Lampung Selatan.

Selain itu, ketika ada seminar-seminar atau kegiatan yang mengundang seorang JBI, melalui Gerkatin, Kanti juga turut diperbantukan di situ. Bahkan, Kanti juga pernah menjadi JBI di kepolisian apabila ada tunarungu yang terlibat masalah hukum.

Di Tangerang, kini Kanti juga masih diberi kesempatan membantu seorang ustaz untuk memberikan kajian Islami setiap satu bulan kepada tunarungu di Masjid Baitul Kurnia, SCBD Bintaro, Tangerang Selatan. Tema kajiannya bermacam-macam, di antaranya tentang indahnya Islam. "Di sana saya belajar bagaimana semua orang berhak mendapat ilmu agama apa pun kondisi fisiknya, subhanallah," katanya mengucapkan.

Dalam memberikan kajian Islam tersebut, Kanti menginterpretasikan isi kajian bahasa Indonesia ke dalam bahasa isyarat. Saat itu, kata dia, para jamaah tunarungu tersebut dibantu dengan sebuah layar yang hanya merekam gambar ustaznya. Tapi, kata dia, secara bertahap mereka dapat memahami isi kajian tersebut. "Alhamdulillah mereka paham secara bertahap. Acaranya untuk umum, dan kebanyakan pesertanya dewasa," katanya menjelaskan.

Kendati sudah sering menjadi JBI di berbagai tempat, sampai sekarang pun Kanti mengaku masih terus belajar bahasa isyarat agar bisa menjadi seorang JBI yang baik. Namun, kata dia, untuk belajar menjadi JBI yang bisa berkomunikasi ala kadarnya dengan tunarungu, paling tidak hanya membutuhkan sekitar enam bulan.

"Hakikatnya profesi apa pun pasti akan membanggakan bila dikerjakan dengan sepenuh hati. Begitu pun menjadi JBI, di manapun dan kapan pun ketika ilmu saya yang masih seuprit ini bermanfaat, saya merasa  bersyukur," ujarnya.

Melihat kesejahteraan tunarungu di Indonesia saat ini, menurut Kanti, masih sangat perlu diperhatikan oleh pemerintah, terutama masalah aksesibilitas di segala bidang, termasuk pendidikan. Kata dia, saat ini masih banyak tunarungu yang belum mendapatkan haknya seperti yang tertera di Convention Rights People with Disability (CRPD). Padahal, kata dia, Indonesia adalah salah satu negara yang meratifikasi hal itu. c39, ed:Hafidz Muftisany

***
Biodata


Nama : Kanti Setyo Wilujeng
Panggilan : Kanti
TTL : Bandar Jaya, 05 Agustus 1992
e-mail : Kantie.wilujeng@gmail.com
Moto hidup : Khoirunnas anfa'hum linnas  

Riwayat Pendidikan 
-S-1 Bimbingan dan Konseling Universitas Lampung (Unila) (2010–2015)
-SMAN 1 Terbanggi Besar, Lampung Tengah (2007–2010)
-SMP IT Bustanul Ulum, Lampung Tengah (2004–2007)
-SDN 1 Nambah dadi (1998–2004)

Pengalaman Organisasi

-Terapis YCHI-Autism Center 2011–sekarang
-Konselor PIK-M Raya Universitas Lampung 2011–2012
-Program Leader YCHI SNETS Lampung  2012–2015
-Young Changemaker Ashoka Indonesia 2013
-Peserta Youth For Peace Union Jakarta  2014
-Kepala Cabang YCHI SNETS Lampung 2014–2015

Pengalaman Juru Bahasa Isyarat
-Hari Disabilitas Internasional Dinsos Provinsi Lampung 2013
-JBI Hari Tuli Internasional 2013
-Volunteer Kelas Bahasa Isyarat Gerkatin Lampung 2013-sekarang
-JBI Audiensi Dinsos Provinsi Lampung 2014
-JBI Kelas AKBER Bandar Lampung 2014
-JBI Hari Tuli Internasional 2014
-JBI Debat Kandidat Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandar Lampung 2015
-JBI Debat Kandidat Calon Bupati dan Wakil Bupati Lampung Selatan 2015
-JBI Sosialisasi Pemilu untuk Disabilitas Kota Bandar Lampung 2015
-JBI Interview Deaf Youth Leadership INA-USA 2015
-JBI Polsek Sukarame, Bandar Lampung 2015



Baca juga
  » 5 Desember 2017
Pemkot Bagikan 51 Alat Bantu Disabilitas
Pemkot Solo

  » 1 Desember 2017
Muniyati dan Anak-Anak Autis yang Cakap Menenun Songket
Anak Autis yang Cakap Menenun Songket

  » 13 November 2017
Jaga Kandungan, Cegah Down Syndrome
Down Syndrome

  » 18 Oktober 2017
Pantau Tumbuh Kembang Anak Lewat KIA
Pantau Tumbuh Kembang Anak Lewat KIA

  » 29 September 2017
Ruang Ramah dan Aman Anak Semakin Sempit
Ruang Ramah dan Aman Anak Semakin Sempit